Banner
jardiknaswikipedia Indonesia
Galeri Photo Terbaru
Agenda
17 January 2018
M
S
S
R
K
J
S
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Statistik

Total Hits : 272476
Pengunjung : 88554
Hari ini : 14
Hits hari ini : 55
Member Online : 15
IP : 54.242.250.208
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

admin    
Jajak Pendapat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat

Mengembalikan jati diri bangsa dengan teladan yang positif dari guru

Tanggal : 28-09-2013 08:23, dibaca 580 kali.

Mengembalikan jati diri bangsa

dengan teladan yang positif dari guru

 

Ketika Hirosima dan Nagasaki di bom oleh tentara Sekutu menggunakan bom atom sampai luluh lantak, sang Kaisar Jepang Hirohito dengan penuh kekhawatiran langsung bertanya ke pusat informasi. Tahukah apa yang ditanyakannya ? Kaisar Hirohito bukan menanyakan berapa jumlah tentara, tank, pesawat tempur, kapal perang yang ada atau jumlah aset negara yang tersisa. Tapi yang ia tanyakan adalah berapa jumlah guru yang masih hidup. Begitulah pemahaman sang pemimpin akan fungsi guru. Ia tidak khawatir Jepang akan hancur selamanya karena  guru masih banyak yang hdup. Maka tidaklah aneh, ketika dalam waktu yang singkat, Jepang sudah kembali seperti semula sebagai negara maju berkat memaksimalkan fungsi guru.

             Dalam buku Mahabarata episode Karno tanding, kurawa ditanya oleh gurunya apa yang kamu minta dariku untuk menghadapi peperangan. Aku minta senjata, sedangkan pandawa ditanya oleh  gurunya apa yang kamu minta dariku untuk menghadapi peperangan. Aku hanya minta ayahanda guru mendampingiku dalam peperangan. Ternyata dalam peperangan akhirnya dimenangkan oleh pandawa yang selalu didampingi gurunya bukan senjata guru.

             Ho Chi Min ( bapak pendidikan Vietnam ) mengatakan bahwa No teacher No education, No education, No economic and social development. Begitu tingginya arti seorang guru bagi pembelajaran bangsa ini.

 

            Dari beberapa ilustrasi diatas dapat kita ambil kesimpulan guru merupakan tulang punggung peradaban bangsa untuk memberantas kebodohan yang melanda masyarakat. Dalam konteks persekolahan guru adalah ujung tombak. Guru memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin proses pembelajaran bisa berlangsung dengan baik.

             Kita harus mengakui, banyak predikat negatif kita sandang sebagai bangsa di mata dunia. Mulai predikat bangsa koruptor , bangsa yang tidak disiplin, malas, ingin bekerja mudah dengan hasil yang besar ( konotasi yang negatif, banyak bicara tanpa mengerjakan sesuatu, tidak bisa menghargai kawan sendiri, tidak bisa menghargai orang tua atau yang dituakan ( para pemimpin ) mau menang sendiri, tidak menghargai waktu, karena itu kita menjadi bangsa yang semakin lama bukannya tambah maju tetapi mengalami kemunduran baik di segi moral maupun teknologi.

             Mengapa kita menjadi bangsa dengan kondisi yang demikian ? Generasi muda seperti tidak punya arah, perkembangan teknologi bukannya menjadi suatu sarana positif tetapi hanya menjadi tren yang tidak jelas. Disinilah peran dan fungsi guru menentukan.

             Padahal berdirinya Budi Utomo sudah mengawali pergerakan bangsa melalu pendidikan untuk memperbaiki nasib bangsa.

 Mereka telah berfikir nasib bangsa sangat buruk karena selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain ( dalam hal ini Belanda sebagai penjajah ). Para pendiri Budi Utomo melihat dengan jelas keadaan negatif pada saat itu dan memperbaikinya melalu budaya ( termasuk pendidikan ) dan politik.

             Untuk membangun generasi muda dan menjadikan bangsa ini maju maka kita harus selalu berfikir positif dan harus mengutamakan pola pikir , sikap dan tindakan yang berdasarkan semangat dan jiwa kebangsaan, Semangat dan jiwa kebangsaan adalah tidak berfikir, bersikap dan berperilaku untuk kepentingan individual atau perorangan, kedaerahan, golongan dan aliran melainkan pola pikir, sikap dan perilaku yang mengutamakan kepentingan bangsa secara keseluruhan.

             Dengan melihat hal tersebut, sebenarnya sejak awal kita dapat memulai pendidikan anak-anak kita untuk membentuk karakter bangsa yang utuh melalui aktifitas sehari-hari. Sebab pendidikan yang terbaik adalah menjadi teladan, bukan hanya berbicara dan menyuruh. Di lingkungan sekolah guru harus menjadi idola, panutan dalam segala hal yang positif.  Karakter orang yang sukses adalah tepat waktu, keberanian berinisiatif, senang melayani dan memberi, membuka diri terlebih dahulu, senang bekerja sama dan senang membina hubungan baik, senang mempelajari hal-hal yang baru, jarang mengeluh, profesional, berani menanggung resiko, tidak menunjukkan kekhawatiran dan nyaman dengan keaslian.

             Dengan menjadi teladan berarti proses pendidikan untuk mengembalikan kepribadian atau jati diri bangsa tidak dapat dilakukan dari bawah ke atas namun dari atas ke bawah. Proses mengembalikan jati diri bangsa dimulai dari para pemimpin, para tokoh, para orang tua dan yang terutama dalam hal ini adalah guru. Mereka-merekalah yang wajib menunjukan contoh pola tingkah laku yang terpuji.

              Misalnya menghindari saling menyalahkan, saling menghoramti sesama rekan, menghargai pimpinan, melepas kepentingan pribadi demi kepentingan orang banyak, mendahulukan bekerja daripada berbicara terus menerus. Jika hal ini dilakukan secara otomatis kita akan berhasil mengembalikan jati diri bangsa sesuai cita-cita kemerdekaan Indnesia.

              Permasalahan tentang kurangnya atensi dan penghargaan guru sudah teratasi dengan adanya dana sertifikasi yang sudah mulai terealisir. Jadi tidak ada kata kesejahteraan guru kurang. Guru hanya tinggal mengimplementasikan fungsi guru dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi teladan yang sangat diidolakan siswanya. Dengan demikian kita akan dapat menjadi bangsa yang maju. Selamat berjuang para guru !!  Dengan teladan yang positif insya alloh akan terwujud bangsa yang makmur gemah ripah loh jinawi.

 

 



Pengirim : Sri Lestari, S.Pt
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas